Rumah ‘Anti Stress’ (Homy)

Setiap hari kita dan anak-anak menghadapi masalah dan tekanan hidup. Seharian di sekolah atau bekerja tak jarang menyisakan stres dan kepenatan emosi saat tiba di rumah. Untuk itu kita perlu menciptakan suasana rumah yang home (homy). Rumah yang Homy adalah rumah yang membuat anggota keluarga betah tinggal di rumah. Agar homy rumah tidak harus besar dan tidak harus berperabot mahal atau mewah.

 

Walau sederhana, rumah yang homy membuat penghuninya betah dan saling merindukan. Di dalamnya terasa sejuk, intim dan membuat seisi rumah selalu disegarkan kembali saat berada di rumah. Khususnya setelah lelah melewati berbagai kegiatan yang menantang dan melelahkan.

 

TIPS: Menciptakan rumah yang “homy”

 

Pertama, hendaknya anak-anak tahu bahwa di rumah ada papa-mama yang mengasihi dan bisa mereka andalkan. Kalau anak kita dimarahi guru atau di-bully oleh teman di sekolah, mereka tahu bahwa papa-mama akan menghibur. Jika Teguran guru atau detensi dari sekolah sudah cukup menyadarkan anak, maka Ortu jangan lagi menghukum anak atas kesalahannya di sekolah. Jika nilai-nilai anak memburuk karena suatu hal dan orang tua dipanggil ke sekolah, anak-anak tahu mama atau papa-nya akan datang. Anak-anak yakin, teguran sekolah terhadap orang tua tidak membuat mereka dipermalukan di depan guru; karena orang tua juga turut mengambil-alih tanggung jawab itu.

 

Kedua, memaklumi kekurangan anak. Dengan belajar psikologi perkembangan anak, maka ortu sadar setiap periode itu anak punya masalah. Misal, Kadang anak kita yang baru kelas 2 SD lupa menyediakan keperluan sekolah walaupun sudah ditulis dalam Agenda. Orang tua perlu memaklumi itu.

 

Anak-anak akan sangat senang dan lega jika ayah-ibunya tetap mau mengantar mereka ke toko untuk membeli perlengkapan sekolah biarpun orang tuanya sangat lelah dan hari sudah malam. Ini kenangan-kenangan yang akan membekas dalam hati mereka. Sebab anak adalah anak yang kadang bisa lupa, seperti kita juga orangtua yang lupa beri waktu terbaik bagi mereka.

 

Ketiga, suasana home sweet home dibangun oleh rasa saling menghargai. Istri saya bercerita, Ia senang sekali melihat orang tuanya  ngobrol atau jalan bareng sambil bergandengan tangan. Di tengah kesibukan mengurus anak yang masih kecil-kecil, Sang Mama sempat membuat kue. Lalu sekeluarga ngemil kue buatan Mama sambil dengar musik dan ngobrol. Dalam keluarga kami sekarang, kami membangun saling menghargai dengan beberapa peraturan. Di antaranya: tidak boleh saling-memukul atau menghina, belajar mengucapkan kata-kata ”selamat” di hari-hari khusus (ulang tahun, natal, paskah, hari ibu, dsb).

 

Keempat, meski nampak sepele kami berlatih Saling menghargai dengan mengucapkan kata ”terimakasih dan tolong” untuk setiap bantuan yang diberikan dan diterima. Anak-anak dibiasakan meminta izin untuk hal-hal tertentu, misalnya kalau mau main game atau memberitahu jika hendak keluar rumah. Memberikan apresiasi saat anak berbuat hal baik dan terpuji. Belajar menegur kesalahan mereka secara pribadi, dan bukan di depan umum.

 

Kelima Kami belajar saling memaafkan dan menyelesaikan konflik secara harian. Belajar dari ungkapan seorang Guru abad Pertama, agar marah itu diselesaikan sebelum matahari terbenam. Belajar menyatakan emosi seperti marah, sedih dsb. Ini akan membuat setiap anak tidak perlu membawa kemarahan atau kekesalannya ke tempat tidur. Ortu bersedia menjadi pendengar yang baik dan “keranjang-sampah” bagi emosi negatif anak.

 

Keenam, Anak-anak akan merasa aman dan dihargai jika orang tua tidak membeda-bedakan mereka dengan saudara atau sepupunya. Mereka tahu, orang tuanya bersikap adil terhadap semua kekurangan dan kelalaiannya.

 

Ketujuh, tak kalah penting adalah membangun perasaan aman dan nyaman di rumah karena anak-anak sadar ada Tuhan yang selalu menjaga mereka. Sebagai ortu kita wajib menolong mereka mengenal Tuhan. Dengan cara menceritakan Firman dan kebaikan Tuhan. Juga memberikan waktu menjawab Pertanyaan-pertanyaan mereka tentang iman dan pengalaman mereka yang membingungkan.

 

Penutup

 

Membangun ruman yang nyaman tentu butuh waktu, usaha cinta dan kreatifitas. Bila kita bisa menciptakan rumah yang Homy ini, maka banyak stres dari luar rumah berkurang bahkan menghilang saat tiba di rumah bersama keluarga. Cinta dan keintiman dalam keluarga adalah obat stres yang ramah dan murah.

*Ditulis Oleh Julianto Simanjuntak

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s